Dua tahun berlalu, sedingin angin yang berembun di dataran tinggi Flores.
Gavin akhirnya menyerah pada takdirnya di Ruteng setelah kontrak kerjanya selesai. Ia memindahkan hidupnya ke tempat baru, menyembuhkan luka lamanya, dan kini telah menemukan seorang pasangan baru—seorang wanita yang mencintainya dengan utuh, tanpa bayang-bayang masa lalu yang rumit. Gavin akhirnya menemukan kehangatan sejati.
Sementara di Ruteng, Alina harus berjuang mati-matian menghidupi putranya dengan gaji perawat lapangan. Gunjingan tetangga tentang pertunangannya yang batal dan status anaknya kian hari kian mencekik leher. Keluarga besarnya tidak bisa terus-menerus menahan beban sosial ini. Hingga akhirnya, desakan ekonomi dan tuntutan adat memaksanya mengambil keputusan pahit.
Kehangatan Baru di Tanah Ngada
Pria itu bernama Bernard, seorang duda kaya berusia dua puluh tahun lebih tua dari Alina, seorang pengusaha kopi dan kain tenun mapan asal Kabupaten Ngada.
Awalnya, pernikahan itu terjadi murni karena keterpaksaan adat dan demi masa depan putra kecilnya. Alina melangkah ke altar pernikahan dengan hati yang kosong, menerima takdirnya di Bajawa—kota dingin di kaki Gunung Inerie.
Namun, waktu adalah tabib yang paling penyabar.
Bernard ternyata bukanlah pria tua yang kaku. Di balik gurat wajahnya yang matang, ia menyimpan ketulusan yang luar biasa. Ia menerima putra Alina dengan tangan terbuka dan menyayanginya seperti darah daging sendiri.
Saat Alina lelah pulang dari dinas malam, Bernard selalu memastikan ada tungku api yang menyala hangat dan secangkir teh jahe madu di atas meja.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












