Aris melepas helmnya, merapikan rambutnya sebentar, lalu berjalan menuju pintu masuk kedai sambil membawa satu jas hujan cadangan di lengannya. Lonceng di atas pintu berdenting nyaring, membawa masuk embusan angin malam Ruteng yang menusuk tulang.
“Vin, aku duluan ya,” ucap Alina setengah berbisik. Ia menatap Gavin dengan tatapan yang campuk aduk—ada rasa bersalah, rasa sayang, dan ketakutan yang berbaur menjadi satu.
“Iya, pergilah. Jangan bikin dia nunggu,” jawab Gavin. Ia memaksakan sebuah senyuman terbaik yang bisa ia tumpahkan malam itu.
Sebelum Alina berdiri, Gavin menahan ujung lengan jaket gadis itu selama satu detik. “Al, kancing jaketmu sampai atas. Di luar dingin banget, kamu naik motor.”
Alina mengangguk cepat dengan mata yang berkaca-kaca, lalu berdiri. Begitu ia berbalik membelakangi Gavin, wajah dilema itu luruh, digantikan oleh senyuman hangat yang langsung ia arahkan kepada tunangannya.
“Hai, sayang. Maaf ya agak terlambat. Gila, kabut dari Cancar tebal sekali, motor sampai harus jalan pelan-pelan,” suara Aris terdengar berat dan agak serak karena menerjang angin malam saat ia menyambut Alina.
Tangannya yang masih menyisakan dingin jalanan langsung menggenggam jemari Alina, lalu mengusap pelan perut buncit itu di balik jaket.
“Anak Papa gimana di dalam? Nggak kedinginan, kan?”
“Nggak kok, dia pintar banget hari ini,” jawab Alina lembut. Suaranya terdengar begitu manja—jenis suara yang jarang Gavin dengar, karena bersamanya, Alina lebih sering terdengar sebagai perawat yang cemas atau wanita yang dipenuhi rasa bersalah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












