Pacarku Dijemput Pacarnya

1784861

“Aku paham,” kata Gavin. Dan dia memang benar-benar paham. Gavin paham bahwa sehangat apa pun pelukannya saat Alina menangis ketakutan menghadapi kehamilannya, pada akhirnya, Aris adalah pria yang namanya tercatat di kartu keluarga yang sedang mereka persiapkan sejak hari pertunangan mereka di Ruteng.

Menghitung Detik

Waktu berjalan dengan ritme yang menyiksa. Setiap kali lonceng di pintu kedai berdenting menandakan pengunjung baru yang masuk menembus hawa dingin, Gavin secara refleks akan menoleh, bersiap menghadapi momen ketika ilusi kepemilikannya harus hancur berantakan.

Alina kembali sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit di balik jaket tebalnya—sebuah gerakan refleks seorang ibu yang selalu membuat hati Gavin berdenyut nyeri. Gavin hanya memperhatikan setiap detail wajah gadis itu.

“Al,” panggil Gavin lirih.
“Ya?” Alina menoleh.
“Kalau nanti Aris selesai kuliah S1 di Jogja dan kalian resmi menikah… apa kamu bakal ikut dia atau tetap di Ruteng?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, menembus pertahanan yang selama ini ia bangun. Alina tampak terkejut. Matanya berkedip beberapa kali, dan keheningan yang pekat kembali merayap di antara mereka, lebih dingin daripada embun Ruteng di luar sana.

Alina mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang buram oleh uap dingin. “Vin, kita kan udah sepakat buat nggak bahas masa depan setelah anak ini lahir.”

“Aku cuma tanya, Al. Sekali ini aja,” puji Gavin dengan nada memohon yang tersamar. “Aku cuma mau tahu, di mana ujung dari semua jalan yang kita telusuri di kota dingin ini.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel