Pacarku Dijemput Pacarnya

1784861

infopertama.com – Jam dinding digital di sudut kedai Kopi Mane menunjukkan pukul tujuh malam lewat sedikit. Di luar, kabut tebal khas Kota Ruteng turun tanpa ampun, membungkus kota kecil di dataran tinggi Pulau Flores itu dalam pelukan udara sedingin es.

Rintik gerimis yang berbaur dengan angin gunung menghantam kaca jendela, menciptakan simfoni sunyi di antara alunan musik akustik yang lamat-lamat.

Gavin duduk di dekat jendela, kedua tangan erat melingkari cangkir kopi Manggarai hangat yang sudah kehilangan separuh uapnya.

Matanya menatap lurus ke depan, tepat pada jemari seorang gadis yang sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Gadis itu bernama Alina. Pacar Gavin. Setidaknya, itulah status rahasia yang mereka sepakati selama sebelas bulan terakhir.

“Dia sudah lewat hamparan sawah Lodok,” ucap Alina tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya datar, namun ada nada tegang yang terselip di sana.

Gavin menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma pekat kopi Arabika yang pahit memenuhi rongga dadanya, mengusir sedikit rasa menggigil.

“Jalanan berkabut?” tanya Gavin, berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil, bebas dari getaran emosi yang sebenarnya sedang bergemuruh di dalam sana.

“Iya. Katanya dari arah Cancar kabutnya tebal banget. Tapi dia bilang aku disuruh nunggu aja di dalam kedai,” Alina mendongak, menatap Gavin dengan sepasang mata bulatnya yang jernih. Ada senyum tipis yang dipaksakan di bibirnya.
Gavin mengangguk kaku. “Baguslah. Jadi kamu nggak usah menembus angin dingin di luar. Nggak baik buat kandunganmu.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel