Aris pergi ke Jawa untuk mengejar gelar dan masa depan mereka, meninggalkan Alina yang harus tetap berdinas sebagai perawat lapangan di Ruteng. Di tengah kepanikan menjadi calon ibu baru, rasa mual awal kehamilan, kesepian yang mencekik akibat LDR Ruteng-Jogja, Alina menemukan Gavin.
Gavin hadir sebagai sosok yang selalu ada. Saat Alina pusing memikirkan data puskesmas, Gavin yang menyelesaikannya. Saat Alina mual-mual di posko kesehatan desa, Gavin yang memijat tengkuknya dan membelikan teh jahe hangat.
Gavin tahu ini salah. Dia tahu dia mencintai seorang wanita yang mengandung anak pria lain, wanita yang jemarinya sudah dilingkari cincin emas hasil tunangan adat di kota ini.
Namun, melihat kerapuhan Alina di kota dingin ini membuat Gavin lumpuh secara logika. Ia jatuh cinta teramat dalam.
“Kamu nggak marah, Vin?” Alina menggeser cangkir teh kamomil hangatnya, menatap Gavin dengan tatapan bersalah yang sudah sangat sering Gavin lihat.
Gavin tersenyum tipis. “Buat apa marah? Dari awal kan kita udah tahu posisinya gimana, Al. Akhir pekan ini Aris pulang liburan dari Jogja. Malam ini giliran tunanganmu.”
“Maaf ya,” bisik Alina. Jari-jarinya bergerak di atas meja, sempat ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh punggung tangan Gavin. Sentuhan itu hangat, namun bagi Gavin, itu seperti sentuhan perpisahan. “Dia pulang dari Jogja lewat Labuan Bajo. Dari sana dia pinjam motor GL Pro hitam milik saudaranya buat langsung naik ke Ruteng malam ini, mau periksa kandungan aku sekalian makan malam sama keluarga besar. Aku nggak bisa nolak.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












