Pacarku Dijemput Pacarnya

1784861

Gavin tetap duduk di tempatnya, membatu. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Aris memakaikan jas hujan tebal ke tubuh Alina untuk melindunginya dari hawa dingin Ruteng yang kejam. Aris sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai yang sepi, dan selama sepersekian detik, mata mereka berdua bertemu.

Aris tidak mengenal Gavin. Bagi Aris, Gavin hanyalah rekan kerja biasa di LSM Kesehatan yang kebetulan sedang minum kopi sendirian. Tidak ada kecurigaan di mata Aris, hanya ada tatapan sekilas yang penuh ketidakpedulian dari seorang pemenang yang memegang komitmen pertunangan resmi.

Gavin merasakan dadanya seperti dihantam batu gunung yang dingin. Ia melihat bagaimana Alina berjalan keluar dari kedai, perlahan naik ke atas boncengan motor GL Pro hitam itu. Alina melingkarkan kedua tangannya erat-erat di pinggang Aris, menyandarkan kepalanya di punggung pria itu untuk mencari kehangatan dari terpaan angin malam.

Aris menyelah motornya. Suara mesin GL Pro kembali menderu, lampunya membelah kabut malam yang pekat, dan perlahan kepulan asap serta bayangan mereka menghilang di tikungan jalan arah Katedral Ruteng.

Topeng yang Terbongkar

Namun, rahasia sekecil apa pun di bawah kabut Ruteng akhirnya akan terendus juga.
Aris ternyata tidak sebodoh yang Alina kira. Jauh sebelum ia pulang membawa motor GL Pro malam itu, seorang kawan lama di Ruteng telah mengirimkan foto-foto kedekatan Alina dan Gavin di lapangan.

Hancur dan murka, Aris yang berada di Jogja memilih tidak langsung mengonfrontasi. Rasa dikhianati oleh wanita yang telah dikuncinya dengan adat dan kini mengandung anaknya menumbuhkan dendam yang dingin.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel