Hati yang suci adalah bahasa nilai yang bersifat universal. Orang Manggarai, orang Jawa, umat Muslim, umat Hindu, dan seluruh umat beriman memahami betul esensi dari hati yang bersih. Janji yang menyertainya pun bersifat universal: mereka akan melihat Allah—puncak kebahagiaan kekal yang diimpikan oleh setiap anak manusia.
Di Manggarai, seseorang baru dihormati sebagai ende (ibu) atau empo (leluhur) yang dituakan setelah ia berpulang, manakala wakar hidupnya telah tuntas diuji dan disaksikan oleh masyarakat (gendang). Semasa hidupnya, ia adalah seorang ata (manusia biasa yang berproses).
Logika ini sejalan dengan pandangan negara maupun pandangan teologis: Pembaptisan telah menguduskan kita, Sabda Bahagia menjadi peta jalannya, Bapa Suci hadir sebagai refleksi serta pengingat tujuan akhir, dan gelar orang kudus yang sejati—seperti halnya gelar pahlawan—pada akhirnya adalah gelar anumerta, yang baru disahkan sepenuhnya setelah perjuangan ziarah hidup ini paripurna.
Referensi Terpercaya:
Kitab Suci. Alkitab Deuterokanonika. Lembaga Biblika Indonesia. Rujukan: Mat 5:3-12; Mat 16:18; 1 Kor 6:11; Why 7:9.
Konsili Vatikan II. (1964). Lumen Gentium Art. 39-42, Art. 49, Art. 16.
Katekismus Gereja Katolik No. 946-962, No. 2013-2014, No. 1723, No. 828.
Yohanes Paulus II. (1983). Divinus Perfectionis Magister.
Paus Fransiskus. (2018). Gaudete et Exsultate No. 6-9.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
★Adrianus Marselus Nggoro adalah Dosen dan Budayawan yang pernah mendalami studi teologi (1991-1994) di Keuskupan Agung Makassar, dan saat ini berdomisili di Ruteng, Flores.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











