Ketika Gereja menyebut Paus yang masih hidup sebagai Bapa Suci, itu adalah pengingat visual setiap hari bahwa tujuan akhir kehidupan manusia adalah kesucian yang berujung pada kebahagiaan abadi. Sebutan tersebut bukan sekadar hiasan seremonial di Vatikan, melainkan kompas moral dan “pekerjaan rumah” (PR) bagi seluruh umat manusia.
3. Kekudusan: Milik Semua Bangsa dan Lintas Iman
Kesucian tidak hanya menjadi monopoli para martir resmi atau tokoh-tokoh yang tercatat dalam daftar kanonisasi Gereja. Kitab Wahyu 7:9 melukiskan visi surgawi yang inklusif: “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta…”
Sebagaimana seorang pahlawan nasional tidak hanya mereka yang memiliki tanda kehormatan di makam pahlawan, orang kudus pun tidak terbatas pada figur yang patungnya berdiri di Vatikan. Kekudusan adalah hakikat milik semua umat beriman lintas suku, budaya, agama, dan bangsa, sebab surga adalah rumah impian seluruh umat manusia.
Di Manggarai, misalnya, ada para empo (leluhur) yang mungkin semasa hidupnya tidak pernah mengenali ritus baptis resmi, namun hidup mereka teruji suci karena menjaga wakar (kejujuran dan martabat hidup) dengan integritas tinggi. Mereka mungkin tidak tercatat di Vatikan, tetapi hidup mereka tercatat di surga. Inilah esensi hakiki yang dirayakan setiap 1 November.
4. Pegangan Perjuangan: Sabda Bahagia
Apa yang menjadi pegangan utama dalam menempuh perjalanan panjang menuju hidup kekal yang universal ini? Jawabannya terangkum dalam salah satu Sabda Bahagia: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











