Bedanya, pahlawan adalah gelar anumerta yang diberikan oleh negara, sementara orang kudus adalah gelar anumerta dari Gereja. Gelar ini bukan diciptakan untuk membuat kesucian baru, melainkan untuk mengakui buah kesucian yang telah diperjuangkan semasa hidup.
1. Satu-satunya yang Hidup Disebut Suci: Bapa Suci sebagai Gembala Umat
Dalam tradisi Katolik, hanya ada satu jabatan yang diperbolehkan menyandang kata “suci” selagi masih hidup, yaitu Paus atau Il Santo Padre (Bapa Suci).
Penyematan ini bukan berarti pribadi seorang Paus terbebas dari dosa. Gelar Bapa Suci adalah gelar jabatan (titulus officii), bukan ukuran kesempurnaan moral individu. Kata “suci” di sini merujuk pada Takhta Petrus yang kudus (Mat 16:18).
Makna terdalamnya terletak pada posisinya sebagai gembala yang memimpin umat yang telah dikuduskan melalui pembaharuan baptisan. Melalui Sakramen Pembaptisan, umat beriman telah dikuduskan. 1 Korintus 6:11 dengan tegas menyatakan, “Kamu telah dikuduskan,” sementara dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium artikel 40 menyebutnya sebagai panggilan universal untuk hidup kudus. Kita semua telah menerima benih kekudusan tersebut.
Kendati demikian, garis “kelulusan” itu tidak diraih secara otomatis. Benih kekudusan harus terus diperjuangkan setiap hari, persis seperti seorang pejuang yang merawat dan membuktikan jiwa kepahlawanannya.
2. Sebutan Bapa Suci sebagai Kompas Menuju Kebahagiaan Kekal
Tujuan akhir kehidupan manusia bukanlah sekadar menumpuk kekayaan atau mencari popularitas duniawi, melainkan menggapai kebahagiaan kekal—Vita Aeterna. Katekismus Gereja Katolik (KGK) artikel 1723 mengajarkan bahwa kebahagiaan kekal adalah anugerah memandang Allah secara langsung.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











