Musuh Bisa Datang dari Orang Dalam

2). Janganlah Putus Asa

Apabila kita mengalami peristiwa pahit yang tidak semestinya terjadi, hendaklah kita tidak putus asa. Paulus menceritakan pengalaman pengadilan atas dirinya kepada bangsa Yahudi di Roma. Ia bercerita bahwa bangsanya sendiri, yaitu orang-orang Yahudi di Yerusalem mengkhianati dan menentang dia untuk dibebaskan karena ia tidak bersalah.

Bila kita mengalami pengkhianatan dari orang-orang dalam atau dari orang-orang kita sendiri, hendaklah kita menanggung pengalaman pahit itu dengan tabah dan sabar. Kita tidak boleh putus asa atau putus harapan. Kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan mengetahui kebenaran peristiwa yang terjadi atas diri kita. Bila kita memang bersalah, baiklah kita menyesal dan mohon ampun pada Tuhan dan bersikap jujur dan tulus juga kepada orang lain.

Akan tetapi bila kita berada pada posisi yang benar, namun tetap dipersalahkan, terimalah pengalaman itu sebagai sebuah kesaksian kepada orang lain. Intinya, kalau kita berada dalam posisi yang benar, janganlah pernah kita malu atau takut. Kita harus merenungkan sabda Tuhan ini.

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka,” (Luk 18: 7-8).

Bila kita benar dan berada dalam posisi yang benar, Tuhan pasti memihak kita dan membenarkan kita. Dengan kata lain, pada saat kita benar, Tuhan tidak akan terlambat atau menunda-nunda waktu untuk menolong kita.

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel