Kita amat bersyukur bila kita tidak mengalami kejadian seperti Paulus. Bangsa kita atau keluarga kita pada umumnya selalu membela kita dalam peristiwa apa saja. Mereka tidak akan meninggalkan kita ketika kita berada dalam suatu urusan perkara atau persoalan apa saja. Mereka akan memihak kita dan selalu mendukung dan menopang kita, sehingga kita tidak merasa sendirian dalam kesulitan atau persoalan apa saja.
Meskipun demikian, kita harus tetap waspada dan mengakui dengan jujur apabila orang dari dalam bangsa kita atau orang dari dalam keluarga kita tidak selalu berada di pihak kita. Kita harus merenungkan kata-kata nabi Mikha ini: “Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mi 7: 5-6).
Yesus sendiri menegaskan ulang kondisi yang sama ini: “Musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat 10: 36). Bahkan lebih dari semua manusia, Yesus sendiri mengalami pengkhianatan ketika salah seorang murid-Nya yaitu Yudas Iskariot mengkhianati Dia demi uang atau harta kekayaan. Sesudah Yudas Iskariot menerima tiga puluh uang perak dari imam-imam kepala, ia “mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus” ( Mat 26: 16) kepada imam-imam kepala untuk dijatuhi hukuman mati.
Tentu kita tidak boleh mencurigai bangsa kita atau keluarga kita sendiri. Tetapi apabila ada bangsa kita atau keluarga kita sendiri mengkhianati kita tanpa dasar atau alasan yang memadai, terimalah pengalaman pahit itu dengan tabah, dengan sabar dan kuat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





