Menyerahkan Ancaman Kekerasan kepada Tuhan

Amat bersyukur bila kita aman-aman saja, tidak mendapat ancaman secara langsung atau tidak langsung seperti Hizkia, raja Yehuda. Memang kondisi aman dan nyaman serta situasi tenang dan damai merupakan dambaan dan kerinduan, harapan dan kebutuhan setiap orang dan setiap kita.

Akan tetapi bila kita mendapat ancaman langsung atau tidak langsung dari musuh, siapa saja dan dari mana saja, kita harus tetap tenang, tabah dan kuat untuk menghadapi setiap ancaman terhadap kita. Kita tidak boleh gelisah, takut atau panik. Rasa gelisah, takut dan panik membuat pikiran kita gelap dan reaksi emosi atau perasaan kita meledak-ledak dan tidak terkontrol.

Agar kita memiliki pikiran yang terang, hati yang tenang dan emosi yang stabil, kita seperti raja Hizkia mesti membawa atau menyerahkan ancaman yang kita alami kepada Tuhan di dalam doa. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa dan kekuatan yang amat kita butuhkan untuk menghadapi ancaman dari luar atau dari orang lain terhadap kita. Secara manusiwi, kita amat rapuh dan lemah. Kita mudah gugup, takut dan panik bila kita mendapat ancaman langsung dari muka ke muka dengan pelaku ancaman dan kekerasan. Tetapi juga ancaman tidak langsung melalui telpon atau WA atau SMS amat sering membuat kita tidak berdaya bahkan sampai menangis dan pasrah menyerahkan diri kepada pelaku ancaman.

Berhadapan dengan ancaman apa saja, bila situasi mungkin dan memungkinkan, lebih baik kita lari atau menghindar. Akan tetapi bila tidak jalan, peluang dan kesempatan untuk melarikan diri, mau tidak mau kita mengadu kekuatan fisik. Kita bisa menang tetapi bisa juga kita kalah. Bila kita memang merasa diri tidak kuat atau tidak mampu, mau atau tidak mau kita menyerahkan diri kepada Tuhan dan membawa dan menyerahkan ancaman yang kita alami kepada-Nya. Kita harus yakin dan percaya bahwa kebenaran dan kebaikan serta keadilan adalah kehendak Tuhan untuk memihak kita.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel