Orang Samaria di dalam Injil adalah orang asing dari bangsa kafir. Dia tidak mengenal Tuhan-nya orang Yahudi. Dia juga tidak mengenal siapa orang yang dirampok di tengah jalan itu. Akan tetapi, dia amat peduli dengan orang yang menderita itu. Hatinya tergerak oleh belas kasihan terhadap orang yang menderita itu. Maka ia ‘all out’ menolong orang itu sampai tuntas. Perbuatan orang Samaria itu adalah wujud cinta kasih yang ikhlas, tanpa syarat dan tanpa batas sampai menolong orang yang menderita sampai tuntas.
Apakah cinta kasih orang Samaria telah menjadi bagian hidup kita di dunia ini? Apakah kita mengasihi orang lain dengan tulus ikhlas. Dan, apakah kita mengasihi sesama, terlebih orang yang menderita dengan sepenuh hati, tanpa batas dan tanpa syarat? Kalau kita mengasihi orang lain, terlebih orang yang menderita tanpa syarat dan tanpa batas, kita sudah berada dalam jalan yang benar menuju hidup yang kekal. Kita tidak perlu bimbang dan ragu akan hidup kita yang kekal kemudian, bila kasih kita sudah hampir sama seperti kasih orang Samaria itu.
Suatu hari Nasrudin diundang oleh Raja untuk mandi di kolam bersama para menterinya. Raja mau menjebak Nasrudin. Sebelum Nasrudin datang, Raja sudah membawa 19 butir telur ayam. Delapan belas dibagikan kepada para menterinya. Satu butir untuk Raja sendiri. Ketika Nasrudin datang, Raja bersama para menteri sudah merendam di kolam air hangat. Begitu Nasrudin datang, ia melepas pakaian dan langsung ikut merendam.
Nasrudin bingung kira-kira permainan apa lagi yang diciptakan Raja. “Begini Nasrudin, aku mengundangmu untuk ikut dalam permainan kami. Kita sekali-kali masing-masing, mesti bisa bertelur seperti ayam. Siapa yang tidak bertelur ia harus dihukum mati? Sekarang, marilah kita menyelam dan begitu naik ke atas kita menunjukkan telur masing-masing.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





