Meniti Ancaman Menggapai Damai

Di kisi-kisi kehidupan tak menentu itu, -dan seperti itulah hidup-, tak ada kiat nan bijak selain berdirilah teguh dan damai untuk menghadapi semuanya. Kata si bijak “Ancaman harus dihadapi. Tetapi kita hanya dapat menghadapinya jika mempunyai tempat di mana kita dapat menyepi.”

Nouwen ada benarnya juga ketika berujar bahwa sekiranya, “Kita membiarkan pertanyaan kehidupan yang sulit menyentuh kita…walau menyakitkan.” Di dunia, kita tak hanya hadapi timbunan pertanyaan demi pertanyaan tentang banyak hal. Tetapi tentang kita sendiri pun dunia tetap ‘dalam tanya, dalam sangsi, dalam curiga, dalam serba ketidakmengertian’ yang lahirkan varian sikap terhadap kita. Maka?

Tak ada cara lain pula selain ‘sebaiknya kita pulang kepada diri sendiri dan menjumpai DIA yang memberi kehidupan.’ Kita memang sepantasnya ‘berdamai dengan diri sendiri. Memeluk diri yang tak indah mesti ditapaki. Sebab kita bakal tak sanggup memuaskan sepenuhnya siapapun dengan segudang tanya yang tak akan pernah tercukupkan apapun jawabannya.

Namun, sepantasnya kita tak pernah lupa pula untuk bersyukur dan ucapkan alhamdulilah atas pijaran Cahaya Kasih yang tetap kita dapatkan di tengah-tengah serba kelam dan  ketakpastian yang kita hadapi. Adakalanya kita dapatkan surprise kehidupan yang sama sekali tak kita bayangkan. Namun….

Tidak kah terdapat sekian banyak orang yang hadapi ancaman dan ketakpastian hidup dalam situasi hati tak menentu dan terasa asing?

Bagaimana pun di dunia yang terus bergulir dalam waktu, kita tak mesti menerawang segalanya dalam kebingungan dan rasa putus asa. Dalam rana kekristenan, sepantasnya tertanam dalam-dalam keyakinan pada Dia yang adalah “Jalan dan Kebenaran dan Kehidupan” (Yoh 14:6).

Laman: 1 2 3 4

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses