Kita, memang, telah berjuang membangun rasa damai dan aman. Tetapi, iya seperti itulah, bahwa banyak hal tak terduga yang mendadak bisa luluhlantakan semuanya. Hidup kita selalu dikitari ragam tragedi yang mengancam dan menghancurkan.
Dalam situasi serba tak menentu seperti ini, tulis si bijak, “Iman berubah jadi ketakutan. Jawaban menjadi pertanyaan. Dan kita berada di tempat asing tanpa peta.” Hidup benar-benar jadi rangkaian ancaman dan persoalan saat impian tak sesuai kenyataan. Dan di saat itu pula kita sendiri kehilangan pedoman dan arah untuk temukan satu dua solusi.
Di titik praktis keseharian, tidak kah tanggungjawab, kepercayaan atau kewajiban sering dilihat sebagai ‘ancaman, beban, musuh yang mesti dielakkan?’ Orang menghindar atau lari dari kepercayaan dan kewajiban tugas, dan lalu hilang bersembunyi dalam ‘kesenangan dan suka-sukanya sendiri.’
Namun, dalam ‘penghindaran dan persembunyian’ itu sebenarnya beban rasa terancam dan tak nyaman justru semakin tebal menggumpal. Yang terjadi sebagai akibatnya adalah kita jalani hidup penuh kamuflase. Terdapat adanya turbulensi batin tak nyaman, penuh kontradiksi di dalamnya. Praktisnya begini, Bro….
Kita tampak damai nan teduh namun hati kita sebenarnya gersang nan kerontang; kita tertawa namun sebenarnya hati kita lagi jerit meratap; kita tampak kuat (mungkin saja karena masih berposisi) namun kita sebenarnya amat rawan dan ringkih dalam hadapi tantangan; kita terbang melayang di atas awan gemawan namun sesungguhnya kita lagi ‘tertati-tati merayap seperti lagi di debu tanah.’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan