Ketika Flores Berguncang: Refleksi Tentang Luka, Kemanusiaan, dan Harapan

Refleksi dari Posko Utama BPBD Kabupaten Manggarai

Oleh: Pino Jebarus (Pengurus PMI Kabupaten Manggarai)

infopertama.com – Tanggal 15 Agustus 2026 akan tercatat sebagai salah satu hari yang meninggalkan luka mendalam dalam ingatan masyarakat Flores dan Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi berkekuatan 7,7 Magnitudo bukan sekadar peristiwa alam yang mengguncang tanah; ia telah mengguncang kehidupan, merobohkan rumah-rumah, memisahkan keluarga, merenggut nyawa, dan memaksa puluhan ribu orang meninggalkan tempat yang selama ini mereka sebut sebagai rumah.

Di Kabupaten Manggarai, data yang ada menggambarkan besarnya tragedi tersebut. Sebanyak 55 orang meninggal dunia, 22.145 jiwa mengungsi di 68 posko terpadu, sementara sekitar 40 ribu orang lainnya bertahan di berbagai posko mandiri. Tidak kurang dari 23.715 bangunan mengalami kerusakan, meliputi rumah warga, fasilitas pemerintahan, kesehatan, pendidikan, hingga berbagai fasilitas umum. Namun, di balik angka-angka itu, sesungguhnya terdapat cerita-cerita manusia.

Ada seorang anak yang kehilangan tempat tidurnya. Ada seorang ibu yang harus memasak di tengah keterbatasan. Ada keluarga yang kehilangan anggota tercintanya. Ada anak-anak yang tidak lagi dapat belajar di ruang kelasnya. Ada tenaga kesehatan yang tetap melayani masyarakat meskipun fasilitas tempat mereka bekerja rusak. Ada pula warga yang setiap malam tidur dalam kecemasan karena gempa susulan masih terus membayangi.

Bencana selalu mengingatkan kita bahwa di balik setiap angka statistik, terdapat manusia, air mata, harapan, dan perjuangan untuk bertahan hidup.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel