Mengungsi berarti meninggalkan kehidupan yang selama ini dikenal. Mengungsi berarti seorang ibu harus memutar otak untuk memberi makan anak-anaknya dalam kondisi serba terbatas. Mengungsi berarti seorang lansia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mungkin tidak ramah bagi kondisi fisiknya. Mengungsi juga berarti anak-anak harus belajar tidur di tempat asing, bermain di ruang yang terbatas, dan menghadapi trauma yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Karakter penanganan bencana tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan logistik belaka. Makanan, air bersih, tenda, dan selimut memang sangat dibutuhkan. Namun, manusia juga membutuhkan rasa aman, perhatian, pendampingan psikososial, dan harapan.
Ketika Bangunan Rusak, Kehidupan Harus Dibangun Kembali
Kerusakan pada 23.715 bangunan menunjukkan bahwa pekerjaan besar baru saja dimulai. Rumah-rumah harus dibangun kembali, sekolah harus kembali berfungsi, fasilitas kesehatan harus dipulihkan, serta kantor pemerintahan dan fasilitas umum harus kembali melayani masyarakat. Namun, proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh hanya berbicara tentang membangun kembali tembok dan atap. Yang utama harus dibangun kembali adalah kehidupan masyarakat itu sendiri.
Rekonstruksi harus menjadi kesempatan untuk membangun Flores yang lebih siap menghadapi bencana. Rumah harus dibangun dengan memperhatikan prinsip tahan gempa. Bangunan publik harus dirancang agar mampu melindungi masyarakat. Edukasi kebencanaan juga harus menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Kita memang tidak dapat menjamin gempa tidak akan datang lagi. Namun, kita dapat berusaha agar ketika bencana melanda, masyarakat sudah lebih siap sehingga jumlah korban dapat diminimalkan. Bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











