Mengubah MBG juga Sebagai Mesin Ekonomi Rakyat

PBNU
Siswa SMPK Frater Maumere sedang menikmati program makan bergizi gratis (MBG) di ruang kelasa SMPK Frater Maumere Kabupaten Sikka, NTT, Senin (17/2/2025). (Foto: Pos Kupang/ Arnold Welianto)

Sachs menekankan bahwa masyarakat miskin sering terjebak dalam lingkaran yang saling memperkuat. Anak yang kurang gizi cenderung memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah.

Pendidikan yang rendah menghasilkan produktivitas yang rendah. Produktivitas yang rendah menghasilkan pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah kembali menciptakan kekurangan gizi pada generasi berikutnya.

MBG berpotensi memutus rantai tersebut dari titik yang paling mendasar: makanan. Namun peluangnya akan jauh lebih besar jika program ini juga menciptakan pasar yang stabil bagi ekonomi lokal.

Ketika anak memperoleh gizi yang lebih baik dan orang tuanya memperoleh pendapatan yang lebih pasti, negara memecahkan dua persoalan sekaligus.

Ia memperbaiki kualitas generasi masa depan dan memperkuat fondasi ekonomi keluarga hari ini. Dalam perspektif Sachs, inilah bentuk pembangunan yang paling efektif: satu kebijakan yang menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi secara bersamaan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar tentang MBG bukanlah berapa juta porsi makanan yang dibagikan setiap hari.

Pertanyaan terbesarnya adalah apakah program ini mampu mengubah nasib jutaan rakyat kecil yang selama ini hidup tanpa kepastian pasar.

Jika MBG hanya memberi makan anak, manfaatnya besar.

Namun jika MBG sekaligus menghidupkan petani, nelayan, peternak, koperasi, UMKM, dan desa, manfaatnya akan berlipat ganda.

Setiap desa perlu merencanakan produksi harian: telur, ikan, sayur, beras. Koperasi desa membuat peta pasokan, jadwal panen, dan kapasitas gudang. Sekolah mencatat kebutuhan harian. Sistem digital mencatat transaksi real-time. Pembayaran cepat ke petani.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel