Mereka menemukan bahwa investasi pada kesehatan, gizi, dan pendidikan anak memberikan manfaat ekonomi jangka panjang yang jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
Pelajaran terpenting bagi MBG adalah bahwa program sosial harus dirancang agar menghasilkan perubahan perilaku dan produktivitas, bukan sekadar bantuan sesaat.
Yang lebih menarik lagi, Banerjee dan Duflo berulang kali menunjukkan bahwa keluarga miskin sering kali bukan kekurangan kemauan bekerja. Mereka kekurangan akses pada pasar, modal, dan kepastian pendapatan. Ketika ketiga unsur itu tersedia, masyarakat miskin mampu berkembang dengan cepat.
Dalam konteks MBG, pelajaran ini sangat penting. Negara tidak cukup hanya memberi makan anak sekolah. Negara perlu menciptakan ekosistem ekonomi yang membuat petani, nelayan, peternak, dan UMKM memiliki pembeli yang pasti setiap hari.
Dengan demikian, MBG tidak lagi menjadi biaya sosial semata, tetapi berubah menjadi investasi produktif yang memperkuat ekonomi akar rumput. Inilah inti gagasan bahwa setiap piring makanan dapat menjadi mesin ekonomi rakyat.
Buku kedua adalah The End of Poverty karya Jeffrey D. Sachs, terbit tahun 2005.
Sachs menjelaskan bahwa kemiskinan sering kali merupakan perangkap yang membuat masyarakat tidak mampu keluar dari keterbelakangan.
Solusinya bukan hanya pertumbuhan ekonomi makro, melainkan investasi langsung pada kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat akar rumput.
Bagian paling relevan bagi MBG adalah gagasan bahwa intervensi negara yang tepat dapat memutus lingkaran kemiskinan dan menciptakan siklus pembangunan baru yang berkelanjutan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







