Hal ketiga adalah membangun tata kelola yang transparan dan dapat diawasi publik. Tidak ada program sebesar MBG yang dapat berhasil tanpa kepercayaan.
Dan kepercayaan lahir dari transparansi. Setiap rupiah anggaran harus dapat dilacak. Setiap kontrak harus terbuka.
Setiap dapur harus diaudit. Setiap pengadaan harus dapat diperiksa masyarakat.
Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa program sosial gagal bukan karena tujuannya salah.
Program gagal karena tata kelolanya lemah.
Karena itu reformasi BGN harus dimulai dari tata kelola digital yang terbuka. Dashboard pengadaan, pemasok, distribusi, dan kualitas makanan harus dapat dipantau publik.
Kepercayaan adalah modal pembangunan yang paling mahal.
Uang yang hilang masih bisa dicari.
Kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dikembalikan.
Jika MBG mampu menjaga kepercayaan publik, ia akan menjadi salah satu investasi sosial terbesar dalam sejarah Indonesia.
Lima puluh tahun dari sekarang, bangsa ini mungkin tidak lagi mengingat siapa pejabat yang mengelola MBG. Namun bangsa ini akan mengingat jika program tersebut berhasil mengangkat martabat jutaan keluarga.
Dua buku di bawah ini menambah wawasan kita soal topik di atas. Buku pertama adalah Poor Economics karya Abhijit V. Banerjee dan Esther Duflo, terbit tahun 2011.
Melalui penelitian lapangan di berbagai negara berkembang, kedua peraih Nobel Ekonomi ini menunjukkan bahwa program pengentasan kemiskinan berhasil bukan karena besarnya anggaran, melainkan karena ketepatan desain kebijakan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







