Ruteng, infopertama.com – Kabupaten Manggarai kini berada dalam cengkeraman krisis energi yang kian memprihatinkan. Pemandangan antrean panjang kendaraan yang mengular puluhan meter di setiap SPBU Kota Ruteng bukan lagi kejadian sesaat, melainkan kondisi berulang yang telah berlangsung berlarut-larut. Fenomena ini menandakan adanya persoalan serius dalam tata kelola serta pengawasan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, khususnya Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.
Melihat kondisi yang berlarut-larut tersebut, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng melalui Presidium Gerakan Kemasyarakatan (Germas) menyoroti secara tajam betapa fatalnya dampak kelangkaan ini terhadap kehidupan masyarakat Manggarai secara luas. BBM bersubsidi merupakan penopang utama aktivitas ekonomi dan mobilitas harian warga, sehingga ketika pasokannya terhambat, roda perekonomian rakyat kecil mendadak terancam lumpuh.
Presidium Germas PMKRI Ruteng, Christian Arje Antas, pada Sabtu (17/10) kepada media menegaskan bahwa kelangkaan solar secara langsung melumpuhkan berbagai sektor usaha rakyat kecil, mulai dari aktivitas pertanian, perikanan, hingga usaha mikro yang bergantung pada bahan bakar.
Menurutnya, keterbatasan akses BBM memicu penurunan produktivitas masyarakat serta berpotensi besar mendorong lonjakan harga kebutuhan pokok akibat meningkatnya biaya distribusi. Tak hanya itu, produktivitas masyarakat ikut terkuras karena harus mengorbankan waktu berjam-jam, bahkan rela membiarkan kendaraan menginap di antrean SPBU demi mendapatkan alokasi BBM bersubsidi. Kondisi ini secara nyata merampas waktu produktif warga yang seharusnya digunakan untuk bekerja dan mencari nafkah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel










