Kopong Pulang Sudah

Dacunha dan Juan terdiam! Lusiana memang omong seperti jarum yang menjahit jantung dan hati keduanya. “Kau selalu benar Lesiana! Tapi lihatlah, ketika kau memandang Lewotana ini, kau hanya menemukan di setiap sisinya selalu ada laut!”

“Laut tidak salah, Lewotana juga tidak salah! Hanya kalian berdua tidak melihat indahnya Lewotana ini! Jangan-jangan itulah yang membuat kamu tidak ke Gereja karena Tuhan pun kamu salahkan?

“Ina jangan begitukah!” Juan berkata pelan.

Tidak No! Lewoleba, Lemalera, Kolilanang sampai Niwak adalah harta yang indah! Hanya Lewotana membutuhkan orang-orang yang membuka mata dan berpikir untuk tanah Lewotana. Jagung titi bisa dibuat kemasan, lalu kita jual. Keindahan laut kita, kita promosikan dan banyak hal lain yang bisa kita lakukan.

Lesiana seperti memberi kuliah umum kepada kedua pemuda itu. Juan dan Dacunha menyimak Lesiana sambil mengunyah jagung titi. Juan paling banyak menghabiskan jagung titi yang enak itu. Dacunha mereguk tuak putih. Ia kemudian menuju tempat tidur, karena malam terlalu larut.

Begitu juga Lesiana, ia ke kamar tidurnya. Ia berharap Kopong mendatangi mimpinya dan matahari pagi membawa kabar tentang Kopong! Tetapi bukankah Kopong mengatakan kepadanya, ia bukan pembuat waktu?”

Lesiana menutup matanya sampai sinar matahari membangunkannya lagi. Dan hari-hari berputar terus seperti biasa! Kapal-kapal tak membawa kabar tentang Kopong! Lewotana memanggilmu Kopong!

Pulang sudah!

*Imam misionaris MSF asal Manggarai, kini berkarya di Kalimantan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel