Kopong Pulang Sudah

Setelah berada di rumah, Lesiana menyalakan api di tungku api (likat). Sinar api memerah pipi ronanya. Ia tampak asik dengan dirinya. Beberapa pemuda kampung datang, duduk melingkar di sekeliling tungku api. Seorang perempuan muda membaca puisi berjudul “Kembali pulang”. Hanya orang yang mengerti tertegun mendengar barisan ritma puisi itu.

Kopong
Pantai Pasir Putih di Adonara (Foto:Detik Travel)

“Itu puisi untuk memanggil Kopong pulang!” kata Juan.

Lesiana terperanjat dari lamunannya. Sebenarnya puisi itu memang tentang Kopong dan para perantau. Doa dan rindu seorang mama untuk anaknya.

“Kopong!” Lesiana lirih menyebut nama itu dan tak seorangpun yang mendengar ucapannya.

“Oh besok ada pelatihan pemanfaatan serabut kelapa untuk membuat sofa dan pelatihan marketing bagi para pengrajin moke. Juan, kamu harus ikut! Kata Lusiana mengingatkan pemuda-pemuda itu.

“Entah pelatihan apa lagi yang harus kita ikuti? Setelah melatih ketrampilan seperti itu, kita tidak berubah. Kita selalu bergantung pada jambu mente yang berbuah seperti pohon terkutuk itu?” Timpal Juan sedikit kesal.

“Yang menjadi persoalan di daerah Lewotana, bukan SDMnya Lesiana, tetapi kita tidak punya akses ke pasar-pasar! Kopra-kopra kita mau jual kemana? Dacunha mendukung Juan. Ia barusan lulus sebagai sarjana Ekonomi dari salah satu kampus di Jawa.

Lesiana memandang mereka! “Lalu untuk apa kamu ada di sini! Kalau semua hal kamu anggap sebagai masalah untukmu? Mengapa kau tidak pergi seperti Kopong saja? Kamu itu pulang karena di likat ina ada cinta, No”, Lesiana membantah argument kedua pemuda itu.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel