Bagi Lesiana, Tobi adalah satu dari sekian puluh pria pecundang yang menggodanya. Tetapi ia membiarkan pemuda pecundang menemukan jalan mereka di selat-selat yang penuh dengan perangkap ombak spiral yang ganas. Mereka tidak akan tahu harta yang tersimpan di Lewotana.
Lesiana memang seorang gadis yang cantik. Hidungnya tirus, rambutnya bergelombang seperti ombak yang tenang. Matanya tajam memandang seperti induk Paus di lembah lautan. Bentuk wajahnya seperti peranakan Nepal. Ia bagaikan sihir bagi para lelaki kesepiaan dari berbagai penjuru. Kalau ia tersenyum gadis-gadis sebayanya, irihati. Tawanya seperti menghidangkan seteguk sari dari mayang-mayang kelapa yang disantap dengan jagung titi pada senja hari di depan bale-bale rumah.
Untuk membunuh rindu, pagi hari Lesiana selalu mengunjungi kebun kemiri milik ayahnya. Memang, keluarganya memiliki bukit-bukit yang bertumbuhkan pepohonan kemiri. Jalan-jalan ke kampungnya dipagar oleh pepohonan Kelapa. Dan Lesiana memiliki semuanya.
Tidak seperti perempuan yang pandai bersolek dan setelah itu memamerkan kecantikannya di media sosial, Lesiana tampak memiliki hidupnya sendiri. Ia milik semesta Lewotana dan hanya Kopong, nama yang terukir di loh hatinya. Seorang pemburu Paus yang sedang memburu mimpi di suatu tempat di negeri ini.
“Tobi, aku tak akan mencintaimu!” Kata Lesiana dingin. Ia mengemas barang dagangannya dan meninggalkan Tobi serta rombongannya.
Udara dingin menyelimuti Kolilanang, mama-mama baru pulang dari arisan di salah satu rumah warga. Mereka mengusung barang-barang di kepala dan tubuh mereka dibalut dengan sarung tenun. Lesiana ada di antara mereka.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

