Kita Tak Pernah Tiba-Tiba Juga?!?!

Kita jadinya belum ‘tiba-tiba juga dalam sekian banyak hal yang seharusnya.’

Bagaimana pun?

Kita tentu tak mau kehilangan harapan dan niat tulus di jalan hidup ini. Terhalang dan tertahan pada yang seharusnya, yang bermakna, yang cerah sinar berseri, tak boleh boleh menggiring kita pada keputusasaan.

Kita berikhtiar bahwa isi pikiran ini berkembang dan maju. Kita impikan cita rasa iman yang subur dan mendebarkan. Sensus religiosus seperti itu mesti membawa kerinduan akan yang Ilahi.

Kita rindukan hati kita agar dapat terbuka luas. Agar dapar menjangkau sesama, dan bagi sesama selalu ada tempat.

Sebenarnya terdapat keyakinan tak tergoyahkan. Kita diingatkan bahwa “Panggilan terbesar yang ditujukan pada diri kita seringkali bukanlah panggilan untuk maju. Tetapi panggilan untuk kembali. Kembali kepada kesederhanaan iman kita.”

Jika sungguh berakar pada Tuhan, maka kita sungguh bertumpuh hidup pada iman. Kita tak akan pernah dibantai oleh kegelisahan karena ‘perbedaan dan kemajemukan.’ Kita pasti lewati segala iri dan dengki terhadap sesama.

Hidup yang benar dalam iman dan di dalam rumah agama sanggupkan kita untuk melepaskan apapun yang membelenggu diri. Yang menjadikan kita ‘kerdil, kecil dan sempit dalam tampilan diri. Jadinya, di ziarah hidup ini nampaknya “kita tak pernah tiba-tiba juga pada tujuan yang semestinya.”

Maka, menjadi terbukalah mata dan hati kita bahwa “Panggilan pulang berarti hidup kita yang sebenarnya berasal dari titik Pusat Kasih dan Hadirat Allah.” Bukanlah dari ‘segala hebat yang kita andalkan sejadinya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel