Mengapa Korban Bencana Justru Banyak Meninggal Pasca-Hari H? Ini Catatan Kritis Bupati Hery Nabit

Ruteng, infopertama.com – Sebuah fakta mengejutkan terungkap dalam Rapat Evaluasi Penanganan Bencana Gempa Flores di Posko BPBD Kabupaten Manggarai, Senin (28/9/2026). Dari total 67 korban jiwa yang terdata, mayoritas korban ternyata tidak meninggal saat bencana terjadi pada hari pertama (hari-H), melainkan saat penanganan medis dan pemulihan pascabencana berlangsung.

Data menunjukkan, dari 67 korban meninggal dunia, hanya 23 orang yang meninggal pada hari-H. Artinya, terdapat 44 korban jiwa yang mengembuskan napas terakhirnya pasca-bencana.

Fakta ini memantik perhatian mendalam dan catatan sangat kritis dari Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit.

“Meninggal di Tangan Kita”

Dalam arahannya di hadapan jajaran pimpinan OPD, Bupati Hery menegaskan bahwa tingginya angka kematian pasca-hari H merupakan indikator kuat adanya masalah serius dalam sistem pelayanan kesehatan darurat.

“Dari 67 yang meninggal, meninggal pada hari-H itu 23 orang. Berarti sisanya meninggal setelah itu. Kalau meninggal setelah itu, berarti persoalannya ada di pelayanan kesehatan kita. Apapun alasan kita—entah Puskesmas rusak atau rumah sakit tidak siap—sisanya itu meninggal di tangan kita,” tegas Bupati Hery dengan nada lugas.

Ia bahkan mengingatkan jajarannya bahwa dalam situasi normal, pola kematian seperti ini bisa berdampak pada konsekuensi hukum. “Ini kan hanya karena situasi bencana, kalau bukan situasi bencana bisa kena hukum semua kita ini,” lanjutnya.

Kendala Budaya dan Keterlambatan Rujukan

Bupati Hery juga membedah akar masalah di lapangan, yang mana keterlambatan penanganan sering kali diperparah oleh dinamika interaksi antara petugas medis dan warga lokal. Menurutnya, ada kecenderungan warga menunda proses rujukan hingga kondisi pasien sudah sangat kritis.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel