Di titik inilah dapat dikatakan bahwa manusia sungguh didera oleh ‘kecerdasan buatan’ yang tidak disikapi dengan penuh kebijaksanaan hati. Akhirnya manusia sendiri masuk dalam situasi penuh kebingungan.
Tentu, Paus Fransiskus tak menegasikan pentingnya kecerdasan artifisial itu. Ada sekian banyak info perkembangan yang amat berguna bagi hidup manusia itu sendiri. Bagaimanapun, “Informasi tidak dapat dipisahkan dari berbagai relasi kehidupan.” Yang patut direnungkan dan diseriusi adalah bahwa “informasi selalu terkait tidak hanya dengan data, tetapi juga dengan pengalaman manusia. Karena itu, butuh kepekaan pada wajah dan ekspresi-ekspresinya, yang berupa kasih sayang dan sikap saling berbagi.”
Apakah yang patut yang direnung lanjut dari pesan Paus Fransiskus pada hari Komunikasi Sedunia 2024 ini? Di tengah percaturan aspek komunikasi yang telah masuk alam industri, maka geliat yang utamakan kepentingan dan keuntungan jadi tak terhindarkan.
Tidak kah kaum muda, misalnya, dan anak-anak, khususnya, telah ‘diculik dan lalu disekap oleh industri media komunikasi? Orangtua merasa nyaman saat anak-anak, misalnya, keasyikan dan tersedot perhatian pada berbagai tayangan, info dan berita tanpa pendampingan ‘hati penuh bijak.’
Kehadiran dan terutama pendampingan penuh bijak orangtua jadi ‘kisah teramat mahal dan jarang.’ Keyakinan Paus Fransiskus bahwa “kebijaksanaan seperti itu tidak diperoleh dari mesin.” Kaum muda yang ‘kehausan’ akan hiburan atau segala hal yang berdaya pikat penuh umpan menjadi kecanduan akan produk industri komunikasi. Dapat dibayangkan bila memang tak ada panduan etis yang mumpungi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





