Ketika Ibu Tak Pernah Bercerita Lagi Penuh Hangat

Hasil dari kebijaksanaan hati terungkap dalam integrasi pengalaman hidup. Paus Fransiskus menyebutkannya sebagai integrasi antara “keseluruhan dan bagian-bagiannya, keputusan-keputusan dan konsekwensinya, kemuliaan dan kerentanan, masa lalu dan masa depan, individulitas dan keanggotaan kita dalam komunitas yang lebih besar.”

Kebijaksanaan hati itu diyakini sungguh “memampukan kita dalam melihat hubungan, situasi, peristiwa, dan mengungkapkan makna yang sebenarnya. Tanpa kebijaksanaan ini hidup menjadi hambar.” Namun, adakah hal yang sungguh menantang dalam kerangka “Peluang dan Bahaya?” Segala kemajuan dalam ilmu dan teknologi sungguh tak terbendung dan tak terbantahkan.

Manusia sanggup mengkreasi dan memproduksi sekian banyak hal yang mempermudah hidupnya. Kita hidup, sepertinya, di hadapan sekian banyak mesin yang siap ‘melayani’ 24 jam. Di rana media, Paus mencatat, “Media memperluas penyebaran kata-kata…. Dan sekarang kita mampu menciptakan mesin-mesin rumit yang bertindak sebagai pendukung bagi pikiran manusia. Bagaimanapun, masing-masing instrumen ini dapat disalahgnakan.”

Media komunikasi nan canggih menjadikan sekian banyak hal dapat diakses mudah dan dalam hitungan detik. Namun, tidak kah hal ini lahirkan pula banyak tantangan dan bahaya pula? Banjir info yang mendera terkadang justru mendatangkan kenyataan disinformasi atau sebabkan adanya ‘polusi pikiran.’

Seturut refleksi Paus Fransikus, kiranya berita palsu (hoaks) sudah terwujud dengan istilah deepfake, yang nampak dalam foto, yang tampaknya asli namun sebenarnya amat mengecoh. Ada juga editing nakal dan licik yang memanipulasi suara (audio) yang “tidak pernah dikatakan seseorang.” Ini semua kerjanya teknologi simulasi yang bisa sungguh merusakkan hubungan di antara manusia.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel