Yesus Lahir: dari Theodice ke Deus Humanissimus
Pada titik ini, orang justru mempertanyakan Allah sebagai maha Pengasih dan Penyayang. Bagaimana mungkin Allah yang Maha baik dan Maha kasih itu rela menghukum umatnya dengan membiarkan pelbagai bencana datang menghancurkan manusia?
Manusia mulai ragukan konsep tentang Allah sebagai Allah yang Mahabaik, penuh cinta, dan rela mengampuni.
Bagi mereka, Allah adalah penghukum dan membalas dendam. Ia memberikan hukuman dan pelajaran bagi manusia yang telah dalam banyak hal melakukan pelanggaran dan dosa.
Di hadapan aneka bencana alam yang menimbulkan penderitaan dalam kehidupan manusia, orang bahkan tidak tanggung-tanggung mendeklarasikan kematian Allah. Allah telah mati (Jerman: Goot ist Toot dalam filsafat Nietzsche).
Ada dua hal yang perlu digarisbawahi.
Pertama, peristiwa kelahiran Kristus ke dunia merupakan sebuah bentuk solidaritas Allah terhadap situasi ketakberdayaan manusia.
Allah yang secara nyata hadir dalam diri Yesus Kristus ingin menyentuh dalam situasi hidup manusia yang penuh dengan dosa, ketidakberdayaan, dan kesengsaraan.
Allah yang kita imani adalah Deus Humanissimus; Allah yang sungguh manusiawi. Ia hadir ke tengah dunia dan merasakan kondisi manusiawi kita. Dia datang, hidup, berada dan menderita bersama manusia. Namun, ia tidak hanya hadir dan berada bersama manusia.
Manusia bertanggung jawab untuk meneruskan solidaritas Allah itu pada semua ciptaannya, baik manusia maupun alam sekitarnya. Merayakan Natal berarti kembali mengimani kemahakuasaan dan kebaikan Allah terhadap manusia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



