Dalam pandangan iman, kekuasaan dan pangkat, jabatan dan harta kekayaan bukanlah milik kita sendiri. Tetapi semua itu adalah karunia pemberian dari Tuhan untuk menyelamatkan kehidupan sendiri dan kehidupan orang lain. Secara manusiawi, kita memang berusaha dan berjuang untuk mencapai dan memiliki kekuasaan dan pangkat, jabatan dan harta kekayaan, Namun dalam maknanya yang terdalam, semua itu dikaruniakan atau diberikan kepada kita sebagai jalan atau sarana untuk melayani bukan hanya kehidupan sendiri, tetapi juga terutama untuk mengabdi atau melayani kehidupan bersama. Kekuasaan dan pangkat, jabatan dan harta kekayaan akan menjadi sia-sia bila kita hanya melayani diri dan kehidupan sendiri tanpa cinta dan perhatian, kepeduliaan dan pengabdian untuk orang lain dalam hidup bersama.
2). Menyelamat Hidup Sendiri Tanpa Mengorbankan Orang Lain
Izebel, istri raja Ahab sangat luar biasa. Ia sungguh menjadi contoh seorang istri yang baik. Ia amat memahami keadaan suaminya, Ia mencintai dan menyayangi suaminya. Ia menghibur, meneguhkan dan menguatkan suaminya itu. Bahkan ia mencari dan memberi solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi suaminya.
Namun sayang sekali, solusi yang dia ambil bukannya menyelamatkan Nabot, tetapi justru menghancurkan dan mematikan Nabot. Ia amat baik bagi suaminya sendiri, tetapi justru amat jahat bagi Nabot. Ia membela suaminya tetapi ia merebut dan merampas hak milik dan hak hidup dari Nabot. Ia menyelamatkan keluarganya sendiri, tetapi ia mengorbankan keluarga orang lain, yaitu keluarga Nabot.
Seperti Izebel, istri raja Ahab itu, tentu kita harus mencintai dan memperhatikan orang kita sendiri atau keluarga kita sendiri. Amat normal bila hidup pribadi kita sendiri dan hidup orang kita sendiri atau hidup keluarga kita sendiri berada pada urutan nomor pertama untuk dilayani, diperhatikan dan diselamatkan. Akan tetapi normalitas hidup seperti ini tidak berarti mengabaikan, meremehkan dan mengorbankan hidup orang lain.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





