1). Biarkan Manusia Hidup Menurut Haknya
Setiap manusia memiliki hak dan kebebasan yang melekat dengan dirinya. Menurut hak dan kebebasan itulah, manusia hidup dan mengembangkan kehidupannya. Tidak ada orang lain yang mencampuri urusan hak dan kebebasan setiap pribadi. Hanya bila hak dan kebebasan itu mengganggu, mengancam dan merusak kenyamanan dan keharmonisan hidup bersama, barulah hak dan kebebasan itu dibatasi ruang geraknya atau diatur dinamikanya. Dengan demikian kepentingan “bonum commune” kehidupan bersama dapat tercapai.
Dalam bingkai pemahaman ini, ada kesan kuat dalam kisah suci di atas, yaitu bahwa raja Ahab tidak mengakui dan menerima hak dan kebebasan Nabot untuk mempertahankan kebun anggur milik pusaka warisan leluhurnya. Mungkin karena Nabot orang kecil maka raja Ahab cenderung memaksakan kehendaknya untuk merampas dan mengambil kebun anggur Nabot untuk menjadi kebun sayurnya. Tetapi karena keinginan, kehendak dan kemauannya itu untuk mendapatkan kebun anggur Nabot tidak terpenuhi dan tidak tercapai, raja Ahab lalu menjadi amat kecewa, marah sampai mengunci diri dalam kamar dan bahkan mogok makan.
Berdasarkan kisah ini, hendaklah kita tidak memaksa orang lain atau memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain. Barangkali kita memiliki “power” yang besar karena kekuasaan, pangkat dan jabatan apa saja. Mungkin juga kita memiliki harta kekayaan yang banyak. Namun kekuasaan, pangkat dan jabatan tidak menjadi alasan untuk memaksa orang lain. Kita tidak dapat memaksakan kehendak dan keinginan kita kepada orang lain hanya karena “power” kita yang besar atau karena harta kekayaan kita yang melimpah ruah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





