Yang ‘paling dibenci Yesus’ adalah kemunafikan yang berintensi dapatkan penilaian dan pembenaran picisan dari publik. Tak usalah dicanang-cangkan supaya orang tahu bahwa ‘kita sedang bersedekah, sedang berdoa dan sedang berpuasa’ (cf Matius 6:1-6.16-18).
Puasa memang membawa siapapun untuk menjadi teduh dengan diri sendiri dan berteguh iman pula dalam kekuatan diri sendiri atas rahmat Tuhan. Puasa yang benar dipastikan damai dan selalu terbitkan aura sejuk dan bening dari kemuliaan hati dan iman penuh tawakal. Dan, puasa tak pernah ‘gaduh, ribut, bising atau rentan kekacauan.’ Sebab hati yang dimeterai iman telah berujung damai dan kasih.
Karena itulah, Puasa yang benar seturut Yesus adalah ekspresi ‘kepala yang diminyaki dan wajah yang dibasuh.’ Itulah tanda wajah yang segar, yang lahir dari hati yang segar pula. Puasa itu tak boleh bermuram wajah apalagi berwajah bagai seorang tahanan. Yang memaksa siapapun untuk berkesimpulan tegas bahwa ‘kita sedang berpuasa.’ Atau bahwa siapapun dipaksa dan ditekan untuk mengakui bahwa ‘kita lagi berpuasa.’ Tidak!
Puasa bukanlah momentum hukuman terhadap diri atau kesempatan untuk menghukum orang lain sejadinya. Puasa, ada bagusnya, dipandang dan dialami sebagai ‘isyarat sakral-spiritual’ bahwa kita mesti sanggup pulang kepada diri sendiri, dan bahwa kita sanggup buktikan maknanya ‘memerangi diri..’ Sebab dari situlah, sekali lagi, akan terbitlah fajar kedamaian dan sukacita. Bagi diri sendiri, terhadap sesama dan di dalam semesta.
Yakinlah!
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





