Ini Bukan Hukuman, Hanya Satu Isyarat

‘Orang bisa memujimu bahagia. Aura ceriahmu sepertinya ditampak-tampakkan. Namun, siapa kah yang pernah tahu, bahwa di dalam sunyimu penuh sendiri, Anda sebenarnya lagi berteman sepi dan air mata? Mental Anda tak sekuat seperti yang terlihat, ternilai dan ditafsir publik.’ Sama seperti yang terlukis berulang-ulang kali, “Body-fisik memang berbentuk truck ekspedisi, namun mental terpaut pada kisaran mesin honda revo 110 Cc, yang sulit lewati jalan berat penuh tanjakan di kehidupan ini.”

Jika demikian, tak perlu ratapi diri dan segala silam yang terlewati. Ini memang bukan hukuman alam semesta. Hanyalah sebatas isyarat kehidupan untuk kembali pada diri sendiri. Telah lama ‘diri ini dikeluarkan dari yang semestinya’ untuk diserahkan begitu saja pada ‘pujian dan pengakuan, atau pun pencitraan nan dangkal.’ Atau pun kepada penghakiman luar tanpa ampun dan belaskasih.

Maka, kiranya Masa Puasa ini adalah sebuah momentum sakral pertobatan. Pohonkan ampun, tak hanya pada Yang Mahakuasa, tetapi juga pada ‘diri sendiri.’ Sebab kita sendiri telah ‘berkhianat dan menipu diri sendiri.’

Iya, Masa Puasa, di titik ini pun, adalah satu perjalanan pulang kepada diri sendiri. Demi berakrab ria seperti apa adanya dan senyatanya dengan diri sendiri. Di situlah kita berani temukan dan memeluk diri sendiri yang tak indah, dan bahwa kita sanggup untuk berkaca ‘lihat luka bernana di wajah kita.’

Puasa itu mesti membatalkan pengakuan dan penegasan dari sesama dan khalayak ‘bahwa kita sedang berpuasa. Sebaliknya, biarlah Puasa itu adalah aksi ‘tipu-tipu suci basuh muka, minyaki kepala’ agar publik tak pernah boleh tahu bahwa kita sedang berpuasa.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel