infopertama.com – Ikatan Alumni Universitas Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur (Iluni UI NTT) menyatakan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang anak laki-laki (YBR) berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, pada 29 Januari 2026.
YBS dilaporkan mengakhiri hidupnya sendiri akibat tekanan psikososial yang dipicu oleh kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan dasar yang paling sederhana.
Peristiwa duka ini lebih dari sekadar tragedi individu. Peristiwa ini menjadi bukti kegagalan sistemik perlindungan anak dan indikator darurat kesejahteraan sosial di Nusa Tenggara Timur. Kebutuhan sekolah senilai di bawah Rp10.000 seharusnya tidak pernah menjadi beban mematikan bagi seorang anak.
Iluni UI NTT menilai tragedi ini menyingkap tiga lapisan kegagalan sistemik. Pertama, kegagalan deteksi dan pencegahan akibat tidak adanya mekanisme deteksi dini dan intervensi preventif untuk anak-anak dari keluarga rentan, yang menunjukkan lemahnya sistem kesejahteraan sosial di tingkat akar rumput. Kedua, negara absen dan gagal dalam memenuhi hak konstitusional atas pendidikan, kehidupan layak, dan perlindungan dari pengabaian. Ketiga, kegagalan layanan sosial esensial karena desa sebagai garda terdepan tidak didukung dengan layanan dasar berupa pekerja sosial profesional dan dukungan kesehatan mental, sehingga keluarga berjuang sendirian melawan tekanan multidimensi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Iluni UI NTT menyerukan tindakan segera dan terkoordinasi.
“Kepada Pemerintah Daerah Provinsi NTT dan Kabupaten Ngada, kami mendesak untuk segera mengaktifkan Sistem Perlindungan Anak Berbasis Desa/Kelurahan dengan Posko Perlindungan Anak terpadu.” Ujar Fulgensius, ketua Iluni NTT dalam keterangan resminya, Kamis, 5 Februari.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



