Berdasarkan pengalaman Paulus dan Barnabas ini, kita tidak harus memiliki karunia luarbiasa sekaliber Paulus dan Barnabas untuk melakukan mukjizat. Meskipun demikian, tetap kita mesti bersyukur bila Tuhan memberi karunia istimewa kepada kita atau siapa saja seperti halnya kepada Paulus dan Barnabas. Apabila kita mendapat karunia istimewa dari Tuhan dalam bentuk kapasitas dan kemampuan serta bakat dan talenta apa saja, jangan kita pernah tidak sadar atau lupa diri.
Sesuai dengan kapasitas dan kemampuan serta sesuai dengan bakat dan talenta yang Tuhan berikan, kita memang harus bekerja maksimal agar kita sukses dan berhasil. Apabila kita sukses dan berhasil, bisa saja seperti Paulus dan Barnabas kita menjadi ‘serbuan’ pujian dan hormat, sanjungan dan simpati dari banyak orang. Bisa juga secara berlebihan ada orang-orang yang ‘menyembah’ kita karena kehebatan dan keistimewaan yang ada pada kita.
Menjadi Rendah Hati, Jujur dan Tulus
Semua bentuk ‘serbuan’ pujian dan hormat, sanjungan dan simpati, apalagi serbuan ‘sikap sembah atau penyembahan’ dari orang lain terhadap kita tidak boleh membuat kita terlena dan lupa diri. Kita harus tetap rendah hati, jujur dan tulus pada diri kita. Kita harus tetap sadar diri bahwa kita adalah manusia, dan bukan ‘dewa atau tuhan.’ Dengan demikian kita boleh merasa bangga dengan kesuksesan dan keberhasilan kita, tetapi kita tidak boleh menjadi sombong pada diri sendiri dan tidak boleh pongah dan angkuh di hadapan Tuhan dan di depan orang lain. Kita harus tetap yakin dan percaya bahwa kapasitas dan kemampuan kita, bakat dan talenta kita tetap merupakan karunia Tuhan bagi kita. Oleh karena berkat dan karunia Tuhan, kita dapat bekerja dan mengelola setiap bakat dan talenta pemberian Tuhan hingga sukses dan berhasil.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




