Todo sebagai unsur roh magis sedikit lemah lembut, sedikit bersahabat, sedikit menjaga jarak dengan duniawi. Sedangkan Pongkor sebagai unsur badan wadag dengan sifat keras, tegar, kurang tahan diri. Orang Manggarai menaruh rasa hormat kepada kraeng Todo, tetapi dalam hal perintah merasa takut kepada kraeng Pongkor. Kombinasi unsur roh spiritual raja Todo dan elan kuasa dunia fisik Pongkor bagi Coolhaas merupakan sesuatu paduan dwitunggal. Sehingga realistis untuk melanggengkan roda pelaksanaan kekuasaan di Manggarai (Toda, 1999: 274-275).
Todo-Pongkor adalah pusat pemerintahan penguasa Manggarai sebelum adanya putusan politik pemerintah koloneal Belanda tentang pemindahan pusat pemerintahan dari Todo-Pongkor ke Puni Ruteng. Sebagai pusat pemerintahan, terutama dalam hubungan dengan pembangunan berbagai fasilitas umum lainnya diperlukan wilayah yang cukup luas dan letaknya harus strategis. Kondisi geografis Todo-Pongkor yang terletak di bagian selatan wilayah Manggarai dipandang kurang strategis untuk tetap dipertahankan sebagai pusat pemerintahan. Ini mengingat wilayah Todo-Pongkor saat itu mulai dari Weri Pateng (bagian barat), tanah Wolo dan Watujaji (bagian timur). Lalu, Laut Flores (bagian utara) dan Laut Sawu (bagian selatan). Di samping itu kondisi topografi yang sempit dan berbukit, yaitu luas wilayah Todo-Pongkor adalah 2.198 Ha, dengan dataran rendah seluas 190 Ha. Sementara tanah dengan kemiringan 300 seluas 650 Ha, dan tanah dengan kemiringan lebih dari 300 seluas 1.358 Ha. Kondisi ini dipandang tidak memungkinkan untuk perluasan kota oleh Belanda di masa-masa mendatang (Janggur, 2008: 70-71).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












