Hari Jadi Ruteng, Kota Klasik dalam secuil Catatan Sejarah

Sedangkan hilangnya kesadaran sejarah tentang Kota Ruteng, dapat berarti atau berakibat pada hilangnya kecintaan dan “rasa memiliki” kota hunian. Dan, ternyata dibentuk dengan mengorbankan harta, jiwa para pahlawan rakyat Manggarai beberapa tahun silam yang memang tidak mau diperintah oleh bangsa lain di negerinya sendiri (Toda, 1989: 1).

a. Todo-Pongkor sebagai Pusat Pemerintahan

Sejarah terbentuknya kota Ruteng yang saat ini menjadi ibu kota Kab. Manggarai tidak bisa pisahkan dari sejarah Todo-Pongkor sebagai pusat pemerintahan penguasa Manggarai. Bagaimanapun menjadi fakta historis yang tidak terbantahkan bahwa seluruh wilayah Manggarai yang saat ini telah mekar menjadi tiga kabupaten (Kab. Manggarai ibu kotanya Ruteng, Kab. Manggarai Barat ibu kotanya di Labuan Bajo, pemekaran tahun 2003. Dan, Kabupaten Manggarai Timur ibu kotanya di Borong, pemekaran tahun 2007).

Ketiga kabupaten ini pada zaman dulu pernah kendalikan dari Todo-Pongkor. Yang saat ini hanya berstatus sebagai desa di wilayah Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai (Janggur, 2008: 59-60).

Todo-Pongkor adalah pusat pemerintahan pada masa pemerintahan dipegang oleh Kraeng Adak Todo-Pongkor yang berkuasa di Manggarai saat itu. Coolhaas, bekas kontrolir Manggarai sebelum Mennes tahun 1926-1927 mempersiapkan pengakuan Belanda pada Zelfsbestuur Manggarai menyebutkan hubungan Todo-Pongkor sebagai adik-kakak. Walaupun, tidak sampai tuntas menjelaskan istilah tersebut melalui penelusuran bukti silsilah. Juga dijelaskan bahwa Adak Todo – Pongkor sebagai “twee-eenheid van vorsten” raja-raja dwitunggal.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel