Cepat, Lugas dan Berimbang

Densus 88 Ingatkan Bahaya Radikalisme Digital, 240 Anak di Manggarai Diberi Pemahaman

Pertanyaan berikutnya datang dari Karolina yang menyoroti peran pelindung anak dalam mencegah radikalisme dan terorisme pada anak.

Silvester menegaskan, pencegahan harus dimulai dari pola asuh di rumah.

“Untuk orang tua, kita mulai dengan mendorong pola asuh yang baik tanpa kekerasan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya regulasi dari pemerintah serta peran tokoh agama dalam meluruskan pemahaman yang menyimpang.

“Pemerintah harus menciptakan regulasi, misalnya pembatasan penggunaan handphone pada anak. Tokoh agama juga punya peran penting untuk meluruskan paham,” ujarnya.

Sementara penanya ketiga, Kiko, siswa asal Desa Benteng Kuwu, Kecamatan Cibal, bertanya soal penanganan kasus kekerasan yang terjadi tanpa saksi.

Menjawab hal itu, Silvester menjelaskan bahwa kepolisian memiliki metode khusus dalam menangani kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

“Jika kekerasan seksual, ada beberapa metode yang dilakukan polisi, salah satunya melalui visum,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian korban untuk berbicara dan melapor agar kasus kekerasan dapat ditangani dengan baik.***

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN