Menurut Silvester, anak-anak menjadi target karena dianggap lebih mudah dipengaruhi dan dibentuk pola pikirnya.
“Jika sebelumnya menggunakan pendekatan langsung, kini perekrutan dilakukan melalui media digital di internet. Mereka seringkali memanfaatkan game online untuk melakukan pendekatan terhadap calon pengikut,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah game populer seperti Free Fire dan Roblox kerap dijadikan pintu masuk untuk membangun kedekatan dengan calon korban.
“Biasanya semua berawal dari bermain game bersama. Karena terasa asik dan menyenangkan, kemudian dibuatkan grup bersama. Pada tahap inilah doktrinasi mulai dilakukan. Berbagai gagasan dan ide radikal dicekokkan ke dalam otak anak,” katanya.
Menurutnya, proses tersebut berjalan perlahan dan sering tidak disadari oleh anak maupun orang tua.
“Dalam grup ini, proses indoktrinasi dilakukan. Visi utopia disebarkan, mereka mempromosikan dan mengkampanyekan gagasan dan ideologi radikal,” tambahnya.
Dalam pemaparan itu, Silvester juga mengungkap data yang cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut saat ini terdapat sekitar 110 anak di Indonesia yang telah terpapar paham IRET. Dari jumlah itu, sekitar 70 orang disebut sudah bergabung dengan kelompok radikal bernama True Crime Community.
Suasana diskusi menjadi semakin hidup ketika Silvester mulai berinteraksi langsung dengan peserta. Ia menanyakan siapa saja yang sudah memiliki telepon genggam. Dari 240 peserta, hanya sekitar 10 orang yang mengaku belum memiliki handphone.
Ketika ditanya soal pengalaman bermain game online, sepertiga peserta mengaku pernah memainkan game daring melalui gadget mereka.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







