Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa kelompok radikal tidak hanya mendorong seseorang menjadi pelaku terorisme. Banyak anak yang akhirnya ikut terjebak dalam berbagai tindak kriminal lain.
“Banyak di antara mereka juga terjebak dalam prostitusi anak, narkoba dan kejahatan lainnya,” katanya.
Di akhir pemaparan, Silvester menekankan pentingnya literasi digital dan keterbukaan dalam penggunaan gadget di lingkungan keluarga. Ia meminta anak-anak tidak menggunakan handphone secara tertutup dari orang tua.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak.
“Orang tua harus mengecek aktivitas digital anak. Histori Google-nya harus dilihat. Jangan sampai anak kita mengakses situs porno, judi dan situs berbahaya lainnya,” ujarnya.
Sesi dialog berlangsung aktif. Tiga peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.
Penanya pertama, Yohanes Siwa dari Kecamatan Ruteng, menanyakan langkah yang dilakukan terhadap anak-anak yang sudah terlibat dalam jaringan terorisme.
Menjawab pertanyaan itu, Silvester mengatakan penanganan dilakukan melalui pendekatan kolaboratif bersama berbagai pihak, termasuk psikolog dan tokoh agama.
“Kita berkolaborasi dengan berbagai stakeholder yang ada, misalnya dengan Dinas P3A dan menghadirkan psikolog. Kemudian dilakukan asesmen. Kalau persoalannya psikologis maka akan ditangani psikolog,” jelasnya.
“Kalau dalam asesmen ditemukan bahwa yang bersangkutan bergabung karena ideologi, maka kita menghadirkan tokoh agama untuk memberikan pendampingan,” tambahnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







