Cepat, Lugas dan Berimbang

Densus 88 Ingatkan Bahaya Radikalisme Digital, 240 Anak di Manggarai Diberi Pemahaman

Silvester menegaskan, bermain game bukan sesuatu yang salah. Namun, anak-anak harus memahami bahwa dunia digital juga menyimpan ancaman yang berbahaya.

“Bermain game itu menarik dan mengasyikkan. Tapi jangan lupa harus bijak menggunakan handphone, karena ada bahaya yang mengintai,” ujarnya.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, Silvester kemudian menjelaskan satu per satu makna intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme.

Ia menjelaskan, intoleransi adalah sikap menolak atau tidak menghargai perbedaan pandangan, agama, budaya maupun identitas orang lain. Bentuknya bisa berupa diskriminasi, ujaran kebencian, pengucilan sosial hingga kekerasan terhadap kelompok tertentu.

“Intoleransi biasanya menjadi tahap awal yang dapat berkembang menjadi radikalisme jika terus dipupuk,” katanya.

Sementara radikalisme dijelaskan sebagai paham yang menginginkan perubahan secara cepat dan mendasar, sering kali dengan cara ekstrem dan di luar aturan yang berlaku.

“Kaum radikal menganggap pandangannya paling benar, menolak perbedaan, mudah mengkafirkan atau memusuhi pihak lain, anti terhadap sistem yang sah, serta membenarkan kekerasan demi tujuan ideologis,” jelasnya.

Sedangkan ekstremisme disebut sebagai paham yang berada di posisi sangat keras dan menolak nilai moderasi, toleransi dan demokrasi.

“Dalam banyak kasus, ekstremisme dapat menjadi jembatan menuju tindakan kekerasan dan terorisme,” ucapnya.

Adapun terorisme, lanjut Silvester, merupakan tindakan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menciptakan rasa takut secara luas demi tujuan ideologi, politik maupun agama.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN