Cinta, Perjuangan, dan Martabat yang Diuji Sunyi

infopertama.com – Cinta sering dipahami sebagai luapan rasa, padahal ia lebih tepat dimengerti sebagai disiplin batin. Ia bukan sekadar getaran yang menghangatkan dada, melainkan kemampuan untuk menata diri di hadapan luka.

Ketika seseorang berkata bahwa cinta adalah sejauh mana kita mampu menyimpan air mata, itu bukan glorifikasi penderitaan, melainkan pengakuan bahwa cinta menuntut pengendalian diri. Air mata yang disimpan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa seseorang memilih menjaga makna, alih-alih melampiaskan ego.

Dalam kerangka filosofis, cinta adalah tindakan etis. Ia selalu melibatkan yang lain. Maka cinta mengandaikan tanggung jawab. Emmanuel Levinas pernah menegaskan bahwa kehadiran “yang lain” memanggil kita pada tanggung jawab yang tak bisa ditunda. Cinta adalah jawaban atas panggilan itu. Ia menuntut kita keluar dari pusat diri sendiri. Di sinilah cinta menjadi perjuangan: perjuangan melawan kecenderungan ego untuk selalu ingin dimengerti, diakui, dan dibenarkan.

Perjuangan sendiri adalah proses verifikasi atas kata-kata. Kata-kata hidup dalam kemungkinan; perjuangan memindahkannya ke dalam realitas. Banyak orang fasih berbicara tentang kesetiaan, keadilan, atau pengorbanan, tetapi hanya sedikit yang bersedia membayar harga dari ucapannya. Perjuangan adalah ruang di mana retorika kehilangan perlindungannya. Ia telanjang. Ia menuntut konsistensi.

Adakah perjuangan yang mudah? Secara ontologis, perjuangan selalu mengandung resistensi. Jika tidak ada hambatan, maka yang terjadi hanyalah aktivitas, bukan perjuangan. Kesulitan bukan aksesori perjuangan, melainkan esensinya. Di dalam kesulitan itu manusia menemukan batas dirinya dan sekaligus kemungkinan untuk melampauinya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel