Diremehkan, tidak dianggap, dicibir, atau tidak dipercaya adalah bentuk-bentuk penolakan sosial. Namun secara filosofis, pengalaman itu memiliki makna yang lebih dalam: ia menguji sumber motivasi kita. Jika perjuangan kita bergantung pada pengakuan, maka ketika pengakuan itu dicabut, kita runtuh. Tetapi jika perjuangan berakar pada nilai yang diyakini, maka cibiran justru memperjelas kedudukan kita.
Hegel berbicara tentang kebutuhan akan pengakuan sebagai bagian dari pembentukan diri. Namun ada tahap kedewasaan di mana manusia tidak lagi menggantungkan eksistensinya sepenuhnya pada pengakuan eksternal. Ia berdiri karena keyakinannya sendiri.
Perjuangan yang diremehkan adalah ujian martabat. Martabat tidak lahir dari tepuk tangan, melainkan dari kesetiaan pada nilai yang dipilih secara sadar. Dalam situasi tidak dipercaya, integritas menjadi taruhan. Integritas berarti kesatuan antara batin dan tindakan. Tanpa integritas, perjuangan berubah menjadi sandiwara; dengan integritas, bahkan kegagalan pun tetap bermakna.
Cinta dan perjuangan pada akhirnya bertemu dalam satu titik: keduanya menuntut ketahanan dalam sunyi. Cinta tanpa perjuangan akan rapuh; perjuangan tanpa cinta akan kering. Cinta memberi alasan mengapa kita bertahan, perjuangan memberi bentuk bagaimana kita bertahan.
Maka pertanyaan “adakah perjuangan yang mudah?” barangkali perlu diubah: bukan apakah ia mudah, melainkan apakah ia layak diperjuangkan. Sebab yang menentukan bukan ringannya beban, tetapi nilai dari tujuan itu sendiri. Dan, ketika seseorang tetap berjalan meski diremehkan dan tidak dipercaya, ia sedang menegaskan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keberhasilan ia sedang membuktikan siapa dirinya sebenarnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











