Mori mali melanjutkan dengan anak ayam di tangannya membuat ritual keliling meneteskan darah anak ayam dalam lingkaran di mana kami duduk. Lalu ia menuju ke tungku api yang ada di bagian teras depan pondok, yang juga dipakai sebagai dapur. Ia mengambil garam dan melemparkannya ke arang api yang sedang memerah. Bunyi suara garam yang terpapar api pun bersahutan dari dalam tungku api. Minda kecilku tertarik dengan adegan itu, dan itu selalu menjadi permainan kecilku setelah itu di rumah.
Mori mali kembali ke tempat duduknya. Lalu dia menyuruh kakak sepupuku bersama ayah dari Oyis untuk pergi meletakkan uang dengan ayam itu di tempat, entah di mana yang sudah dia bicarakan secara tersendiri dengan mereka.
Upacara ini sengaja ditentukan oleh mori mali untuk dibuat pada tengah malam. Karena pantangannya, dalam ritual mengantar anak ayam dan uang oleh kakak sepupu dan bapak Oyis itu ke tempat yang ditentukan, mereka tidak boleh menjumpai siapa pun dalam perjalanan. Termasuk, larangan yang biasa, tidak boleh terantuk dan menoleh ke belakang. Juga ketika tiba di tempat yang ditentukan, bapa Oyis dan kakak sepupuku harus meletakan (memberi) tebusan (anak ayam dan uang) dengan posisi memunggung. Katanya, kalau melepaskan yang jahat tidak boleh memberi muka. Entah maksudnya apa, hanya dia sendiri yang tahu.
Kata si mori mali sedikit menghibur setelah kakak sepupu dan bapak Oyis pergi, “semua yang buruk sudah kita bebaskan dari Oyis, dan kita antar kembali ke tuannya (ata polo)”. Kami pun menarik nafas lega, apa lagi sudah beberapa hari itu Oyis tidak lagi rewel.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan