Persoalan pertama adalah masalah pemberian nama. Dan itu dilakukan ritus untuk mengganti nama, yang kemudian digunakan nama lain yang sampai sekarang digunakan oleh sepupuku.
Masalah kedua yang sangat provokatif, sebagaimana lazimnya dipakai oleh para mori mali pada umumnya ialah mengatakan bahwa sepupuku itu sakit dan sering menangis karena dibuat atau diganggu oleh ata polo. Dia menyebutkan namanya.
“Ata di ngata ate ro ne’e miu. Ngata ghata, miu ne’e ta tau sala ne’e ngata. Ngaza miu ogo geti go sala ngata di, ana ebu di sala-sala nge ogo tolo.” [Orang ini (disebutnamanya) tidak suka dengan kamu. Dia (ata polo) bilang, kamu ada buat kesalahan dengan mereka. Kalau kamu tidak segera tebus itu persoalan, maka bisa terjadi hal yang fatal dengan anak/cucu kamu ini].
Inilah yang membingungkan, untuk keluarga kami. Juga yang memengaruhi emosi omaku, sehingga dia sampai caci maki ata polo itu, karena merasa selama ini kami hidup berdampingan dengan baik. Tidak ada persoalan di antara kami dengan keluarga yang disebut sebagai ata polo itu, kenapa mereka sampai setega itu dengan kami, apa lagi harus melampiaskan itu pada sepupu saya yang masih bayi ini.
Hampir sebulan penuh, sepupu saya dirawat oleh mori mali itu. Dan selama itu pula kami pulang pergi ke pondok mori mali dan hidup dalam kecurigaan yang antipati terhadap keluarga terutama orang yang disebut mori mali sebagai ata polo.
Selama berada di tangan mori mali, saya tidak melihat ada bentuk perawatan untuk sepupu saya, entah dengan ramuan tradisional atau sejenisnya. Tetapi lebih banyak pantangan-pantangan yang diinstruksikan dan harus kami ikuti. Termasuk ada ritual-ritual yang katanya untuk menghalau kekuatan ata polo masuk ke pondok di mana sepupu saya dirawat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan