Sesuai instruksi mori mali, binatang-binatang yang tadi dianggap sebagai medium sihir untuk megguna-gunai sepupu saya itu, dicari untuk dimusnahkan atau setidaknya diusir sampai tidak terdengar lagi suaranya.
Dan biasanya, oma dan istri si mori mali selalu terpancing emosinya hingga sampai mencaci-maki orang yang disebutkan mori mali itu sebagai ata polo yang wera (jiwa) –nya hadir dalam bentuk medium tadi. Mereka sering melontarkan kemarahan yang mengarah ke orang yang dimaksud, tetapi tidak menyebutkan namanya. Diam-diam raga kecilku saat itu pun menyimpan kecurigaan yang sama terhadap orang yang disebut ata polo itu.
Drama semacam itu berlangsung hampir setiap di pondok mori mali. Pernah di satu malam ada suatu kejadian yang sampai sekarang melekat kuat dalam memori saya.
Setelah makan, kami duduk di pelataran pondok. Pondok itu dibuat gaya kolong. Bagian dalamnya ada bilik gudang dan satu kamar, selebihnya ruangan lepas bisa untuk tidur atau sekadar duduk yang bisa muat sekitar 10 orang.
Malam itu begitu menakutkan buat saya. Situasinya seperti kami sedang berperang dengan ata polo. Saya sedang berbaring di samping bapa besar, kakak dari mama saya, dengan kepala di dekap oleh bapa besar di atas pangkuannya. Saya memang sering tidak tidur hingga tengah malam bersama mereka. Pembicaraan apa saja sepanjang malam dari mereka seakan menjadi dongeng yang kadang menakutkan, juga ada kisah humor yang membuatku betah mencorongkan kuping.
Tiba-tiba ada burung gagak menerobos masuk dalam bilik di mana sepupu, tante, dan oma saya tidur. Kepakan sayap burung itu membuat lampu pelita dalam bilik itu mati. Mereka di dalam kamar terkejut. Sepupu saya, Oyis menangis histeris, menyusul dengan pekikan suara gagak dua kali dengan nada yang berbeda. Semua kami panik, kecuali si mori mali yang agak tenang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan