Akhirnya tibalah kami pada ritual tu tolo yaitu tebusan yang harus dibayar oleh keluarga kami kepada ata polo untuk pemulihkan hubungan. Tebusan itu dikatakan mori mali sebagai permintaan langsung dari ata polo untuk melepaskan pengaruh jahat yang selama ini merasuk sepupuku. Denda tebusan itu berupa, satu ekor anak ayam yang baru menetas (manu one neke), uang perak 75 ribu, dan uang koin 75 rupiah.
Malam itu suasana begitu kusuk. Saya tidak tahu secara pasti seluruh proses ritual itu, tetapi ada beberapa bagian yang saya ingat dengan baik. Waktu sekitar pukul 23.30 malam, mori mali dan kami semua duduk membundar dalam pondok itu. Di depan mori mali sudah tersedia anak ayam yang disebutkan tadi dan sejumlah uang yang diletakan di atas sebuah piring.
Mori mali mulai melakukan ritual itu dengan mengucapkan kata-kata yang hampir hanya bisa didengar oleh teliga batinnya sendiri. Kami semua hanya terpaku diam di tempat, ada yang memerhatikan mimik bibir dan gestur seremonial si mori mali, dan ada yang hanya tunduk merenung entah apa yang dipikirkan. Mungkin memohon kepada Tuhan agar memberikan jalan terbaik untuk penyembuhan sepupuku. Saya dengan seribu rasa ingin tahu pada usia kecilku waktu itu hampir tak sekalipun mengedipkan mata, memerhatikan tingkah mori mali.
Mori mali mengambil anak ayam, lalu menyayatnya dengan pisau pada bagian paruh ayam hingga anak ayam berhenti bercuit. Darah yang mengalir dari paruh ayam itu, diteteskan sedikit ke tangan mungil bayi tante saya. Sambil mengusap darah itu di sana, mori mali mengucapkan mantra butanya lagi. Malam sangat tenang dan mencekam, sepupuku sejak tiga hari sebelumnya sudah jarang menangis. Dan malam itu dia tenang dalam lelap didekapan ibunya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan