Cerita dari Pondok Mori Mali

Written by

in

, ,

Suami tante saya dengan panik, menyalakan senter (waktu itu senter batrai ABC, dengan nyala kuning suram) dan bergegas masuk dalam bilik. Dia menyalakan kembali pelita, lalu mencari burung gagak itu di setiap sudut kamar dengan napas yang penuh di dada, terbakar emosi. Sesuatu yang aneh terjadi, burung gagak itu hilang secara misterius. Seluruh isi kamar itu dijelajah dengan teliti oleh Bapak Te, bapak besar, dan kakak sepupuku, tetapi tidak ditemukan burung gagak tadi yang barusan masuk. Suara gaduh di atas bale-bale (lantai pondok dari pelupuh) dan suara mereka yang mencari burung gagak itu memecahkan keheningan malam itu. Badan saya gemetaran dan sangat ketakutan.

Pondok itu dibuat dengan sangat baik dan hampir tidak ada ruang untuk binatang seukuran burung pipit untuk bisa masuk. Kecuali, kalau mereka melalui jendela atau pintu. Tetapi malam itu, satu-satunya ruang yang terbuka hanyalah pintu depan, di mana ada kami yang sedang duduk berbagi cerita. Mori mali, dengan cermat mulai mengamati perlahan untuk melihat, kira-kira ada jejak apa yang ditinggalkan gagak itu.

Ketika memeriksa cukup lama, si mori mali keluar dengan menggenggam sesuatu di tangan. Itu membuat kami penasaran.

Ada dua persoalan yang dihadapi keluarga kami, sebagaimana disebutkan oleh mori mali.

“Ana ebu miu di, bodha gati eke ngaza ngata. Ngaza di ngata ta bau. Ebu kazo ogo pio.” Sebuah permintaan untuk mengganti nama fam sepupuku, karena dianggap nama pemberian itu tidak disetujui oleh leluhur. [Cucu kamu ini, harus diganti namanya. Nama yang ini … dia tidak mau. Ini tidak dikehendaki nenek moyang].

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses