(sebatas satu perenungan)
“Setiap pikiran yang kita masukan ke dalam dunia bakal mempengaruhinya. Maka, pikirkan CINTA, pikirkan KEDAMAIAN, pikirkan HARMONI…. dan bersikap dan lakukanlah semuanya!”
(anonim)
Kons Beo, SVD
Di titik adaptasi
Mari kembali ke diktum itu. “Alam itu,” katanya, “Punya hukumnya sendiri.” Kita hanya butuh kekuatan untuk beradaptasi. Itulah kekuatan fisik untuk disesuaikan dengan kondisi alam. Katakan semisal dengan musim-musim yang datang silih berganti. Di musim gugur dan musim dingin, orang sudah pada tahu bahwa kehangatan suhu tubuh sungguh dibutuhkan. Di Siberia, dengan suhu dingin ekstrim, kata seorang misionaris, orang sudah terbiasa, dalam warisan peradapan, bagaimana mesti bertindak untuk bertahan.
Di kisah lainnya yang amat personal? Setiap individu telah sanggup meneropong kedalaman dan kekuatan diri masing-masing. “I segreti del corpo,” aneka rahasia kekuatan fisik setiap orang tentu berbeda. Dan itu bisa terlihat dalam takaran kesanggupan dan kebertahanan fisik yang adaptif.
Tetapi di atas semuanya, tentu tak dilupakan kekuatan interior untuk menatapi diri serta alam lingkungan. Dunia batin nan bening memang mesti digapai agar enteng jalani hidup. Tanpa kepanikan penuh heboh. Tanpa adanya rasa tidak nyaman, yang lalu diungkapkan dalam ‘kasar dan keras.’
Kaum bijak di keheningan itu pada yakin akan filter diri yang ‘terpasang’ dalam diri siapapun manusia. Segala yang datang dari luar mesti disaring penuh arif dalam pikiran, perasaan dan dalam kehendak (aspek volutif) yang bijak. Di jalan Budda, itulah yang dimuliakan dalam ‘pikiran, kehendak, ucapan, perbuatan-sikap, pekerjaan, usaha, perhatian, dan konsentrasi’ yang sepatutnya bijak dan benar.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





