Bola Mata Indah Itu Mesti Kita Miliki

Kenapa kah zona dan aura nyaman itu diciptakan, tidak dengan tajamkan pikiran? Tidak pula dengan latihan menata gejolak hati dan jiwa? Tetapi dengan harus menyeruduk dan membuldozer ‘yang lain, iya, yang bukan kita.’ Ada kah alam rasa nyaman ditegakkan dengan cacian dan kepalan tinju? Bukan kah sebaliknya bahwa kepalan tinju itu mesti dibuka? Dan segera diganti dengan ‘berjabatan tangan dan lalu bergandeng tangan?’

Purifikasi Hati dan Bola Mata

Bila masih mungkin, tetaplah ada kesempatan untuk memindai alam jiwa-batiniah dan isi pikiran. Tak perlulah bosan sekiranya mesti kembali meneropong Kahlil Gibran, “Jika hatimu adalah gunung berapi, bagaimana kau akan mengharapkan bunga mekar di tanganmu?” Sungguh, kuncup aneka kembang harmoni dan toleransi tak bakal bermekaran, sekiranya alam hati ini tetap bagai gunung berapi yang sajikan gempa bumi, semburkan lahar panas membakar dan tempiaskan tsunami relasi sosial nan tragis.

Sepertinya, kita mesti melebar lanjut….
Katanya, rasionalisme René Descartes ( itu tekankan citra dan kedaulatan akal budi. Iya, akal budi itulah lensa krusial dalam meraih pengetahuan dan kebenaran. Punya otak dan lalu (dapat) berpikir itu tanda bahwa ‘aku ada’ (cogito ergo sum). 

Gawatnya sekiranya ‘adanya aku ini telah benar-benar jadi mandul atau  bahkan dibikin lumpuh dalam kepatuhan buta. Maka, di situ, isi akal budi yang tipis, kering dan tandus itu bakal segera diganti oleh daya ledakan emosi yang beraroma fanatisme sempit, kaku dan liar. Begitulah tesis muatan relasi antara akal budi dan emosi dalam konteks Psikologi Agama. Maksud sederhananya, ‘Yang masih kurang pengetahuan dan gagal paham tentang agamanya sendiri dan apalagi tentang keyakinan sesama yang berbeda, selalu saja menggelegar dalam fanatisme emosional tak berpilar dan tak berpijak!

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel